Sekaten Jogjakarta | Yuk Kenali Sejarah Dan Prosesinya Tradisi Ini !

Jogjakarta sebagai daerah istimewa di Indonesia memiliki keunikan dan kekayaan akan nilai budaya yang masih kental. Tradisi sejak berabad-abad lalu pun masih diterapkan hingga kini, salah satunya yaitu tradisi sekaten Jogjakarta.

Sekaten digelar setiap satu tahun sekali, yaitu pada bulan ketiga dalam kalender Jawa atau saat bulan Maulud. Upacara sekaten diadakan setelah pasar malam digelar selama 1 bulan lamanya. Upacara sekaten sendiri dilaksanakan di alun-alun utara Jogjakarta.

Istilah sekaten sendiri memiliki beberapa arti, yang pertama berasal dari kata “sekati”, artinya orang hidup harus bisa menilai hal baik dan buruk. Ada pula yang mengatakan berasal dari kata “sekat” berarti batas-batas.

Pada intinya sekaten merupakan tradisi perpaduan antara dakwah dan seni. Nah, sekaten ini sudah digelar sejak dulu oleh Sunan Kalijaga sebagai media penyebaran agama Islam. Dalam penyebaran agama Islam, Sunan Kalijaga berdakwah dengan gamelan sebagai medianya.

Dengan kata lain Sunan Kalijaga berdakwah sekaligus berseni. Di tengah-tengah permainan gamelan, Sunan Kalijaga juga menyampaikan khotbah dan membacakan ayat suci Al-Qur’an.

Muncullah kepercayaan masyarakat Jogjakarta bahwa dengan merayakan hari lahir Nabi Muhammad akan awet muda, selain mendapat pahala. Namun awet muda tersebut bisa didapat dengan mengunyah daun sirih pada hari sekaten di depan Masjid Agung.

Dengan begitu, tak heran bila saat sekaten terdapat orang-orang menjual daun sirih dan beberapa ramuan lain di dekat masjid. Mengunyah sirih di hari kelahiran Nabi juga secara tidak langsung menjadi tradisi masyarakat Jogjakarta.

Setelah satu bulan diselenggarakan pasar malam, maka diselenggarakanlah upacara inti dari tradisi sekaten Jogjakarta. Upacara ritual ini dilaksanakan selama 1 minggu penuh, dari tanggal 5 Rabiul Awal hingga 11 Rabiul Awal.

Urutan Upacara Tradisi Sekaten Jogjakarta

Nah, ritual atau upacara tradisi sekaten Jogjakarta ini terdiri dari beberapa urutan sebagai berikut :

  1. Petugas upacara melakukan persiapan baik persiapan fisik maupun non fisik.
  2. Gamelan pusaka dikeluarkan dari persemayamannya.
  3. Pemukulan gamelan pusaka dilakukan di dalam Keraton Jogjakarta.
  4. Sri Sultan menyebarkan udhik-udhik untuk pengunjung dan pemukul gamelan.
  5. Gamelan pusaka Kanjeng Kyai Sekati dipindahkan dari keraton ke Msjid Besar.
  6. Pemukulan gamelan di Masjid Besar.
  7. Sri Sultan hadir di Masjid Besar.
  8. Baginda Sri Sultan menyebarkan udhik-udhik untuk pemukul gamelan pusaka Kanjeng Kyai Sekati.
  9. Sri Sultan menyebarkan udhik-udhik di antara tiang utama Masjid Besar.
  10. Pembacaan riwayat Nabi.
  11. Prosesi penyematan bunga cempaka atau bunga kanthil di daun telinga Sri Sultan.
  12. Sri Sultan kembali lagi ke keraton.
  13. Gamelan Kanjeng Kyai Sekati dikembalikan ke keraton.
Sri Sultan dalam Upacara Sekaten Jogjakarta
Sri Sultan dalam Upacara Sekaten Jogjakarta

Itu dia urutan prosesi upacara atau ritual tradisi sekaten Jogjakarta. Gamelan yang digunakan dalam upacara ini adalah gamelan khusus, yakni gamelan Kanjeng Kyai Sekati.

Selain itu, lagu-lagu yang dimainkan pun adalah lagu yang hanya dibunyikan pada acara sekaten ini. Lagu tersebut merupakan lagu ciptaan walisongo dalam masa penyebaran Islam.

Penabuh gamelan atau niyaga pada acara sekaten menggunakan busana yang masih baru dan tentunya seragam. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan.

Upacara sekaten memang berlangsung sangat hikmat meski banyak pengunjung yang menonton prosesi tradisi sekaten Jogjakarta ini.

Acara yang paling ditunggu saat tradisi skaten Jogjakarta berlangsung adalah arak-arakan, dimana tumpeng sayur yang menjulang di arak sebagai bentuk ucap syukur kepada Tuhan YME. Setelah di arak, sayuran tersebut menjadi rebutan warga Jogjakarta.

Bisa dibayangkan bukan bagaimana keramaian dan keseruan tradisi sekaten Jogjakarta?

Foto dari : KratonJogja.id

Hervino

Hervino

Founder NusantaraKaya.com, Family, Traveling and Culinary Lover.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
error: Konten dilindungi!!
Histats.com © 20