Menikmati Keteduhan Rawa Pening Ambarawa

Rawa Pening | Rawa Bening Yang Luas

Jika Anda saat ini berada di Jawa Tengah terlebih sedang berada di Kota Semarang, maka saatnya Anda berburu wisata yang bisa membuat pikiran Anda jauh lebih fresh dari sebelumnya. Jika urusan wisata kuliner sudah Anda jelajahi, mulai dari lunpia, wingko babat, bandeng presto dan masih banyak lainnya, kini saatnya Anda menjelajah destinasi wisata yang akan membuat hari libur Anda semakin berkesan. Dimana itu? Nusantara Kaya menawarkan Rawa Pening.

Tak jauh dari pusat kota Semarang, Rawa Pening menawarkan sejuta kecantikan dan pesona yang bisa membuat Anda nyaman untuk menghabiskan sisa waktu liburan disana. Jika Anda saat ini berada di pusat kota Semarang, maka dibutuhkan waktu kurang lebih 45 menit saja agar bisa sampai ditempat ini.

Rawa Pening ini tepatnya berada di cekungan yang rendah antara tiga gunung di sekelilingnya yaitu Gunung Merbabu, Telomoyo dan Ungaran. Rawa ini memiliki luas sekitar 2.67o hektar dan menempati empat wilayah Kecamatan, yaitu Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang dan Banyubiru.

Legenda Rawa Pening

Rawa Pening, bukan sekedar tempat wisata biasa namun ternyata menyimpan banyak cerita atau legenda. Jika Anda suka dengan cerita jawa, maka Anda akan tahu betapa besarnya kebudayaan Indonesia dari dulu hingga sekarang. Berikut adalah cuplikan sedikit cerita dari legenda Rawa Pening:

Di sebuah desa bernama desa Ngasem pada zaman dahulu, hidup seorang gadis bernama Endang Sawitri. Penduduk desa tidak ada yang tahu kalau Endang Sawitri punya seorang suami, tetapi ia hamil. Pada saat hari kelahiran yang sangat mengejutkan seluruh penduduk desa Ngasem adalah karena yang dilahirkan bukan seorang bayi melainkan seekor Naga. Anehnya Naga itu bisa berbicara seperti manusia. Konon naga itu diberi nama Baru Klinting.

Di usia yang menginjak remaja Baru Klinting bertanya kepada ibunya. “Ibu, Apakah saya mempunyai Bapak?, Siapa Bapak saya sebenarnya?”. Ibu menjawab, “Bapakmu seorang raja yang saat ini sedang bertapa di gua lereng gunung Telomaya. Kamu memang sudah waktunya menemui bapakmu. Ayo kamu ke sana dan bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan bapakmu dulu. Dengan semangat Baru Klinting berangkat ke pertapaan Ki Hajar Salokantara yang konon adalah nama sang ayahnya.

Sampai di pertapaan, Baru Klinting masuk ke dalam gua, di depan Ki Hajar bapaknya dia bertanya, “Apakah benar ini tempat pertapaan Ki Hajar Salokantara?” . “Ya, benar, saya Ki Hajar Salokantara. Dengan sembah sujud di hadapan Ki Hajar, Baru Klinting mengatakan bahwa Ki Hajar adalah orang tuanya yang sudah lama dia cari-cari. Dengan bukti Klintingan itu Ki Hajar juga mengakui bahwa Baru Klinting adalah anaknya.

Namun, Ki Hajar perlu bukti satu lagi yaitu Baru Klinting harus bisa melingkari Gunung Telomaya. Dan ternyata Baru Klinting bisa melingkarinya dan Ki Hajar mengakui kalau ia benar anaknya. Ki Hajar kemudian memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di dalam hutan lereng gunung.

Suatu hari penduduk desa Pathok mau mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen usai. Untuk memeriahkan pesta itu rakyat beramai-ramai mencari hewan, namun tidak mendapatkan seekor hewan pun. Akhirnya mereka menemukan seekor Naga besar yang bertapa dan langsung dipotong-potong, dagingnya dibawa pulang untuk pesta. Dalam acara pesta itu datanglah seorang anak jelmaan Baru Klinting ikut dalam keramaian itu dan ingin menikmati hidangan. Dengan sikap sinis mereka mengusir anak itu dari pesta karena dianggap pengemis yang menjijikkan dan memalukan. Dengan sakit hati anak itu pergi meninggalkan pesta.

Ia bertemu dengan seorang nenek janda tua yang baik hati. Diajaknya mampir ke rumahnya. Janda tua itu memperlakukan anak seperti tamu dihormati dan disiapkan hidangan. Di rumah janda tua, anak berpesan, “Nek, kalau terdengar suara gemuruh nenek harus siapkan lesung, agar selamat!”. Nenek menuruti saran anak itu.

Sesaat kemudian anak itu kembali ke pesta mencoba ikut dan meminta hidangan dalam pesta yang diadakan oleh penduduk desa. Namun warga tetap tidak menerima anak itu, bahkan ditendang agar pergi dari tempat pesta itu. Dengan kemarahan hati anak itu mengadakan sayembara. Ia menancapkan lidi ke tanah, siapa penduduk desa ini yang bisa mencabutnya. Tak satu pun warga desa yang mampu mencabut lidi itu.

Akhirnya anak itu sendiri yang mencabutnya, ternyata lubang tancapan tadi muncul mata air yang deras makin membesar dan menggenangi desa itu, penduduk semua tenggelam, kecuali Janda Tua yang masuk lesung dan dapat selamat, semua desa menjadi rawa-rawa. Karena airnya sangat bening, maka disebutlah “Rawa Pening”.

Ajak Keluarga untuk Menikmati Rawa Pening

Tentu tidak lengkap jika kita mengunjungi Rawa Pening hanya seorang diri, ajaknya keluarga anda serta. Jika Anda telah sampai di Rawa Pening, Anda bisa menikmati keindahan danau atau rawa yang super besar ini dengan menggunakan perahu motor yang biasa disewakan oleh para nelayan. Untuk harganya standar Rp 100.000 untuk 8 penumpang dewasa. Dengan menggunakan perahu motor ini Anda bisa merasakan kedamaian dan keteduhan Rawa Pening yang disampingnya tergambar jelas Gunung Telomoyo dan Tinjomoyo yang semakin memberikan keteduhan.

Apalagi tanaman eceng gondok yang tumbuh subur ditengah danau ini membuat kita semakin takjub, bahwa ada kolam raksasa yang benar-benar sejuk dibawah kaki gunung. Dengan dibumbui cerita legenda Naga Baru Klinting yang sudah anda baca diatas, tentu menjadikan perjalanan ditengah Rawa Pening menjadi semakin mengesankan.

Rumah Makan Apung Kampung Rawa di Rawa Pening Ambarawa Nusantara Kaya
Rumah Makan Apung Kampung Rawa di Rawa Pening Ambarawa Nusantara Kaya

Selain itu Anda juga bisa menikmati damainya senja di Rawa Pening. Matahari yang sebentar lagi akan terbenam tergambar dengan indah. Oleh karena itu kami menyarankan Anda untuk berkunjung Rawa Pening pada pukul 3 sore dan pulang sekitar 5 sore.

Usai berkeliling di Rawa Pening, Anda bisa menikmati makan malam di Rumah Makan Apung “Kampoeng Rawa” dengan menu ikan air tawar khas Rawa Pening disamping rawa yang penuh dengan suasana sejuk, tenang, dan penuh dengan kehangatan harmonisasi bersama keluarga dan tentunya ini menjadi pengalaman yang mengesankan.

Ahh… betapa kaya dan makmurnya Nusantara kita.

One thought on “Menikmati Keteduhan Rawa Pening Ambarawa

  • February 18, 2019 at 4:13 pm
    Permalink

    Mohon informasinya min …
    Apa saja keunikan dan panorama alam yang mungkin ditemukan bila kita berkunjung ke Rawa Pening Ambarawa??
    Mohon ulasannya min …
    Terimakasih salam kenal …

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
error: Konten dilindungi!!
Histats.com © 20