Melihat Nusa Tenggara Timur, Eksotisme Surga yang Nyaris Terlupakan

Ende, Flores, Sumba, Timor, Alor. Melalui pulau-pulau ini, paradiso Nusa Tenggara Timur menguar ke penjuru negeri dan dunia, mengabarkan surga yang selama ini tertutup kelambu gersang.

Nusa Tenggara Timur berada di sisi tenggara nusantara, menjadi bagian dalam gugusan Sunda Kecil dan Kepulauan Nusa Tenggara bersama Bali, Nusa Tenggara Barat, Maluku, dan beberapa pulau kecil di sekitarnya.

Dari 1.192 pulau di wilayah Nusa Tenggara Timur, baru 432 pulau saja yang memiliki nama. Jumlah ini tentu cukup mengkhawatirkan, mengingat lebih dari 50% pulau anonim berpotensi dianggap sebagai pulau tak bertuan.

Persebaran Wilayah Nusa Tenggara Timur

Provinsi ini memiliki daratan seluas 47.349,90 km2 dengan 21 kabupaten dan kota yang tersebar di atasnya. Adapun daratan terluas ini adalah Pulau Flores dengan luas wilayah 14.321,00 km2, diikuti Pulau Sumba dengan luas wilayah 11.040,00 km2.

Peta Provinsi Nusa Tenggar Timur Nusantara Kaya Indonesia
Peta Provinsi Nusa Tenggara Timur

Dengan bentuknya sebagai provinsi kepulauan, wilayah ini pun dikelilingi oleh wilayah perairan. Di sisi utara, Nusa Tenggara Timur berbatasan dengan Laut Flores. Sementara itu, sisi selatan dan baratnya berbatasan dengan Samudera Hindia dan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Terakhir, di sisi timur, provinsi ini berbatasan dengan Timor Leste, Provinsi Maluku, dan Laut Banda.

Sebagian besar topografi Nusa Tenggara Timur adalah berbukit dan bergelombang dengan tingkat kemiringan yang cukup tinggi. Kondisi alam ini terbagi atas lahan basah dan lahan kering, dengan dominasi lahan kering sebesar 96,74%. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh curah hujan yang rendah, hanya mencapai 1059Mm dengan periode hujan selama 3-4 bulan saja.

Kemahsyuran Sejak Masa Lampau

Jauh sebelum nama NTT kembali bergaung seperti saat ini, dunia juga sudah lebih dulu mengenalnya. Aroma harum cendana Timor sudah sampai hingga Tiongkok, Eropa, dan Timur Tengah. Karena itu, para pedagang dunia lantas bertekad melakukan pelayaran niaga mengarungi samudera mengunjungi sumber cendana di tanah Timor.

Pada masa kependudukan Belanda, wilayah Nusa Tenggara Timur mulai terbagi-bagi. Setelah proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, NTT menjadi bagian provinsi administratif bernama Provinsi Sunda Kecil yang kemudian berganti menjadi Nusa Tenggara di tahun 1950. Baru delapan tahun kemudian, NTT resmi berdiri sebagai provinsi sendiri.

Kekayaan Alam Nusa Tenggara Timur

Setelah Papua dan Papua Barat, Nusa Tenggara Timur menduduki peringkat ketiga sebagai provinsi termiskin berdasarkan data BPS per September 2016. Akan tetapi, melihat potensi sumber daya alam yang ada, hal ini tentu terasa miris dan sangat bertolak belakang.

Kekayaan alam Nusa Tenggara Timur sangat besar dan  menjanjikan, baik di darat maupun laut. Melihat kekayaan yang belum dikelola dengan baik ini pula yang membuat investor dalam dan luar negeri mulai melirik alam NTT.

Di bidang pertambangan, Nusa Tenggara Timur memiliki banyak investor peminat untuk menggarap komoditas mangan, tembaga, marmer, dan beberapa lainnya. Khususnya mangan, mineral ini mudah ditemukan di nyaris seluruh wilayah NTT. Kini, batu mangan sudah banyak dikirim keluar pulau dan Cina.

Dari sektor perikanan tangkap, potensi yang dimiliki provinsi ini cukup besar dan baru dikelola sebesar 38%. Adapun salah satu faktor minimnya perikanan tangkap ini kurang memadainya fasilitas yang digunakan nelayan.

Selain itu, para investor juga menaruh minat besar untuk melakukan pengelolaan dan bisnis kekayaan alam Nusa Tenggara Timur lainnya. Sebut saja tambak garam di atas lahan seluas 8.000 hektare di Kabupaten Malaka dan 3.000 hektare di Kabupaten Timor Tengah Selatan, pabrik tebu di atas lahan seluas 60.000 hekatare di Kabupaten Sumba Timur, pembangunan peternakan sapi di atas lahan seluas 30.000 hektare di Kabupaten Sumba Timur, dan masih banyak lainnya.

Pluralisme Budaya Nusa Tenggara Timur

Ada banyak suku asli Nusa Tenggara Timur yang mendiami Bumi Flobamora, seperti suku Alor, Ende, Ngada, Rote, dan sederet suku lainnya.

Suku Alor

Suku Alor bermukim di daratan Pulau Alor dan sekitarnya. Mata pencaharian suku ini umumnya perladangan berpindah dengan teknik tebang dan bakar dan berburu.

Di masa ini, sebagain besar suku Alor telah memeluk agama Islam dan Kristen. Untuk urusan keturunan, orang Alor masih menganut sistem patrilineal. Saat menikah, pihak laki-laki harus membayar sejumlah maskawin secara kontan kepada pihak perempuan yang disebut belis. Bila tidak sanggup membayar belis secara kontan, maka suami tersbeut kelak harus mengabdi beberapa lama untuk lingkungan asal istri atau menyerahkan saudara perempuannya untuk dikawini oleh laki-laki dari pihak istrinya.

Suku Ende

Hidup berdampingan dengan suku Lio di Kabupaten Ende, Kabupaten Flores, suku Ende memiliki bahasa sendiri yang disebut bahasa Ende. Bahasa ini pun memiliki dua jenis dialek, yakni dialek Ende dan dialek Nga’o. Keduanya sama-sama bagian dari rumpun bahasa Austronesia.

Suku Ngada

Diperkirakan, jumlah populasi suku Ngada sebanyak 155 juta jiwa. Suku yang mendiami Kabupaten Ngada di Pulau Flores ini pun terdiri atas beberapa subsuku bangsa, yakni Ngada, Maung, Bajawa, Rongga, Riung, Palue, dan Nage Keo. Perbedaan tiap subsuku ini hanyalah pada dialeknya.

Suku Ngada memiliki upacara adat yang menjadi daya tarik wisatawan. Upacara Adat Reba ini diselenggarakan pada bulan Desember hingga Februari dengan puncaknya di bulan Januari. Adapun maksud upacara ini adalah sebagai perwujudan rasa syukur bagi para leluhurnya.

Kemegahan Pariwisata Nusa Tenggara Timur

Dengan perkembangan teknologi, kecantikan alam Nusa Tenggara Timur kian luas diketahui. Melalui film dan beragam media sosial, Anda bisa menikmati potongan-potongan keindahan NTT. Akan tetapi, potret tersebut tentu hanya secuil dari surga di tenggara nusantara ini.

  • Danau Kelimutu

Sejak dulu hingga kini, Danau Kelimutu masih menjadi objek yang sayang untuk dilewatkan bagi Anda yang pertama berkunjung ke Nusa Tenggara Timur. Pesona terletak pada kecantikan tiga warnanya, yakni merah, putih, dan biru.

Danau Kelimutu Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur
Danau Kelimutu Flores

Danau kawah ini berada di puncah gunung berapi Kelimutu, tepatnya di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores. Untuk menikmati panoramanya, Anda harus mendaki anak tangga yang berjumlah sekitar 2.600.

  • Desa Wae Rebo

Berada di Kabupaten Manggarai, Desa Wae Rebo tak ubahnya seperti surga di atas awan. Anda akan membutuhkan usaha ekstra mencapai desa di ketinggian 1.200 mdpl ini. Namun begitu langkah mencapai tanah Wae Rebo, segala letih dan peluh akan terbayar.

Anda akan disuguhi gunung-gunung yang berpadu dengan rerumputan hijau yang terhampar seperti permadani. Di sini, tujuh buah rumah adat Wae Rebo juga berdiri dengan lestari, menyempurnakan kemegahan desa tradisional terindah di Indonesia.

  • Kampung Megalitik Bena

Anda tentu tidak akan menemukan pemukiman padat penduduk atau gedung-gedung yang berlomba mencakar langit di Nusa Tenggara Timur. Sebagai gantinya, Anda akan diajak menziarahi masa lalu melalui Kampung Megalitik Bena.

Berada di bawah lindungan Gunung Inerie yang gagah menjulang, Kampung Megalitik Bena seperti potret nyata kehidupan zaman batu. Rumah adat beratapkan jerami, jalan bebatuan yang dibuat sangat rapi, dan hangatnya kehidupan tradisional Bena adalah eksotisme yang akan membuat Anda rela sedikit lebih lama meninggalkan kehibukan modernitas.

  • Pantai Lasiana Kupang

Pantai nan indah ini bisa menjadi salah satu tujuan wisata Anda untuk melepas berbagai beban dan penat setelah bekerja sepanjang hari. Anda bisa menikmati keindahan di pantai dengan bersandar di atas matras, atau bisa juga Anda berenang dengan ombak yang damai, tanpa kerang dan tanpa rasa khawatir jika akan tergulung ombak. Baca artikel NusantaraKaya.com tentang Pantai Lasiana di link Pantai Lasiana Kupang, Keindahan di Ujung Timur Nusantara

Nusa Tenggara Timur adalah kesahajaan megahnya alam nusantara yang nyaris terlupakan. Sebelum tangan-tangan asing yang kembali mengeruk NTT dan menjadikannya boneka, mengapa bukan Anda saja yang mengulurkan tangan untuk menjaganya?

Referensi:

https://www.pewartanusantara.com/upacara-adat-reba-ngada-pulau-flores-ntt/

http://indonesia.go.id/?p=8814

http://bali.bisnis.com/read/20160824/10/61222/kaya-sumber-daya-alam-ntt-diminati-investor

http://www.beritasatu.com/nasional/291566-potensi-perikanan-ntt-baru-dikelola-38.html

http://nttprov.go.id/ntt2016/index.php/profildaerah1/kondisi-geografis

Shelly Salfatira

Shelly Salfatira

Perindu hujan dan penikmat mendung yang mengagumi sudut-sudut nusantara melalui kisah dan perjalanan. Mencintai menulis agar membuat pembaca melihat dan merasakan apa yang dia lihat dan rasakan melalui jalinan setiap kata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
error: Konten dilindungi!!
Histats.com © 20