Cerita Menarik Dibalik Asal Mula Nusantara Dari Zaman Kerajaan Hingga Zaman Modern

Asal Mula Nusantara (dari Zaman Kerajaan hingga Zaman Modern)

Membahas mengenai Indonesia terlebih Nusantara memang merupakan salah satu hal yang sangat menarik, apalagi jika pembasahan ini ditarik semakin jauh ke belakang mengenai asal mula Nusantara. Bukankah sebagai bangsa yang besar harus mengingat dan menghormati sejarahnya? Begitulah yang pernah dikatakan oleh Bung Karno.

Secara sederhana, Nusantara merupakan sebutan yang digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk menggambarkan atau menyebut wilayah kepulauan yang ada di Indonesia ini, yakni dari ujung Sumatera sampai Papua sana. Namun, siapa yang pertama kali menyebut atau mencetuskan nama Nusantara ini?

Jika ingin tahu secara pasti siapa yang memberikan Nusantara ini tentu akan sulit sekali untuk ditemukan, karena memang sebutan Nusantara sudah  ada sejak lama sekali. Namun, kata Nusantara tercetus pertama kali dalam literatur bahasa Jawa, tepatnya di abad 12 sampai abad ke 16. Awalnya, kata Nusantara lebih memberikan gambaran pada konsep kenegaraan yang dipakai oleh Kerajaan Majapahit.

Namun, konsep atau kata Nusantara juga pernah terlupakan begitu saja hingga beratus tahun lamanya. Hingga pada abad ke 20 istilah ini terdengar kembali gaungnya setelah dipelopori kembali oleh Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara menggunakan atau mengemukakan istilah Nusantara untuk menjadi alternatif dari nama Indonesia, tidak lama setelah merdeka demi menggantikan nama Hindia Belanda.

Meskipun pada akhirnya nama Nusantara ini tidak menjadi nama Negara, namun tetap saja kata Nusantara terus dipakai dan sudah seperti sinonim untuk Kepulauan Indonesia. Pengertian dan konsep Nusantara pun masih terus dipakai hingga saat ini. Itulah mengapa Anda sebagai masyarakat Indonesia perlu untuk mengenal asal mula Nusantara.

Nusantara di Mata Majapahit

Seperti yang sudah disebutkan tadi, kata Nusantara mulai terdengar ketika masih jamannya Kerajaan Majapahit. Pada abad ke 13 sampai abad ke 15, konsep yang dianut sebagai konsep kerajaan yang ada di Jawa pada saat itu merupakan Raja-Dewa. Makna dari Raja-Dewa ini merupakan Raja yang menempati tahta pada zaman itu merupakan penjelmaan dari Dewa.

Oleh karenanya, jangan heran jika pada saat itu segala pelayanan ekstra diberikan untuk para Raja. Salah satu hal yang sangat sering terjadi ialah Daerah Kekuasaan Kerajaan harus terus bisa memancarkan Kekuasaan dari Seorang Dewa. Konsep ini juga masih dipakai oleh Kerajaan Majapahit pada saat itu.

Pembagian Wilayah Negara pada Zaman Kerajaan Majapahit

Untuk Anda yang belum mengetahuinya, Majapahit pada saat itu membagi wilayah negaranya menjadi tiga bagian, yakni

  1. Negara Agung.

Seperti namanya, bagian yang satu ini tentu saja menjadi salah satu bagian yang paling spesial, dimana wilayah yang satu ini merupakan daerah-daerah yang ada di sekeliling ibukota kerajaan, dan tentu saja tempat dimana Raja memerintah. Biasanya, hanya orang-orang tertentu yang bisa tinggal di wilayah yang pertama ini.

  1. Bagian yang Tercakup dalam Manca Negara

Bagian-bagian yang tercakup dalam wilayah ini menurut Kerajaan Majapahit ialah daerah yang ada di Pulau Jawa dan juga sekitarnya, dimana budaya dan kebiasaannya masih memiliki kesamaan dengan Negara Agung. Itu artinya, Bali, Madura, Palembang, dan Lampung masuk dalam  wilayah mancanegara.

  1. Nusantara

Lalu ada nama Nusantara, yakni nama yang digunakan untuk wilayah-wilayah lain yang ada diluar Pulau Jawa dan budayanya pun sudah  memiliki perbedaan yang cukup dengan Pulau Jawa.

Kerajaan Majapahit menganggap bahwa Nusantara merupakan daerah taklukan, yang artinya penguasaan atas daerah tersebut harus membayar upeti kepada Majapahit terlebih dahulu.

Jika membahas mengenai Nusantara di mata dan di era Majapahit, Anda tentu tidak bisa melupakan satu nama penting lainnya yakni Gajah Mada. Pada Sumpah Palapa Gajah Mada, ia mengatakan dengan lantang bahwa

“Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak akan berhenti berpuasa. Ia Gajah Mada, jika berhasil mengalahkan pulau-pulau lain, saya (akan) berpuasa. Jika berhasil mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Ouura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya akan berhenti berpuasa”.

Gajah Mada juga menyebut Nusantara, asal mula Nusantara
Gajah Mada juga menyebut Nusantara

Dalam kitab yang berjudul Negarakertagama, Gajah Mada menyebutkan wilayah Nusantara ialah mencakup dari sebagian wilayah modern Indonesia saat ini. Beberapa diantaranya ialah Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara, sebagian dari Sulawesi dan sekitarnya, sebagian dari Papua Barat dan juga sebagian dari Maluku. Ditambah lagi dengan Singapura, Malaysia Brunei hingga sebagian kecil dari Filipina yang ada di bagian Selatan.

Dwipantara

Meskipun nama Gajah Mada sangat erat kaitannya dengan asal mula Nusantara, namun masih ada banyak sekali sejarawan Indonesia yang meyakini bahwa Gajah Mada bukanlah pelopor alias pencetus utama dari konsep Kesatuan Nusantara yang sudah disebutkannya dalam Sumpah Palapa pada tahun 1336 lalu.

Beberapa sejarawan menyebutkan bahwa Pencetus kata Nusantara yang  pertama kali ialah dilakukan pada setengah abad lebih awal, yakni tepatnya pada tahun 1275. Pencetusnya ialah Kartanegara yang merupakan Raja Singasari. Pada saat itu, Kartanegara sedang mengemukakan konsep Cakrawala Mandala Dwipantara.

Cakrawala Mandala Dwipantara dalam bahasa Sansekerta mempunyai arti Kepulauan Antara. Makna lebih jauh dari Kepulauan Antara ini ternyata sama persis dengan Nusantara yang lebih dikenal saat ini. Dimana Dwipa memiliki merupakan persamaan kata Nusa yang artinya ialah pulau.

Dvipantara diterjemahkan oleh peradaban Jawa Kuno menjadi Nusantara, sebagaimana tertulis pada prasasti Gunung Wills, 1269 yang dibuat ketika Kertanegara, Raja Singosari berkuasa, dengan ibukota Kediri Jawa Timur ( M). Tulisan Camunda, 1332 M menyebut Nusantara dengan Sadwipantara. Dalam History of Malay disebut sebagai Nusa Tamara Istilah Nusantara digunakan juga dalam Peta Duma oleh Manuel Elgodinho de Eredia, ahli Kartografi Portugis,

Kerajaan Singasari

Raja Singasari Kartanegara memiliki keinginan yang sangat kuat untuk sebuah persatuan dari kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara, terlebih pada saat itu Kerajaan Singasari sedang berada pada puncak kekuasaan tertinggi. Untuk Anda yang belum tahu, kerajaan Singasari di kala itu sedang melakukan  persiapan untuk bisa menghadapi serangan dari Bangsa Mongol. Di kala itu, Bangsa Mongol sedang membangun Dinasti Yuan yang ada di Tiongkok.

Dengan alasan yang kuat itulah, Kartahegara akhirnya mengadakan Ekspedisi Pamalayu. Tidak ada tujuan lain dari Ekspedisi Pamalayu ini selain untuk bisa menghimpun dan menjalin persatuan dengan Kerajaan Melayu Dharmasraya di Jambi. Namun sayangnya, pada awal-awal masih banyak orang yang berpikiran bahwa tujuan dari ekspedisi ini ialah  untuk sebuah penaklukan dengan cara militer.

Barulah belakangan akhirnya diketahui bahwa maksud dari Ekspedisi Pamalayu ini memiliki sifat  diplomatis untuk bisa menjalin persahabatan dengan Kerajaan Melayu Dharmasraya, dan salah satu unsur yang diikutkan di dalamnya ialah kekuatan dan kewibawaan.

Tentu saja ada beberapa bukti mengenai Ekspedisi Pamalayu yang memiliki sifat diplomatis ini. Bukan sebuah penaklukan militer seperti yang pertama kali dipikirkan oleh banyak orang, namun sebuah persembahan  Arca Amoghapasa yang diberikan untuk penguasa dan juga masyarakat Melayu, dengan sebuah pengharapan bisa mengambil hati dan simpati mereka.

Untungnya, persembahan ini disambut dengan cukup baik oleh Raja Melayu, bahkan dengan memberikan balasan. Dimana Raja Melayu ini  mengirimkan dua orang putrinya yakni Dara Petak dan Dara Jingga ke Pulau Jawa. Maksudnya tentu saja untuk dinikahkan dengan Penguasa Pulau Jawa dan bisa membangun persahabatan yang lebih akrab lagi karena akhirnya sudah berstatus keluarga.

Nusantara di zaman Modern

Setelah cukup panjang membahas mengenai asal mula Nusantara di zaman Kerajaan tadi, kini saatnya Anda lebih mengenal Nusantara di zaman modern. Nama Nusantara semakin terdengar gaungnya di sekitar tahun 1920-an. Dimana pada saat itu Ki Hajar Dewantara lah yang kembali menyebutkan dan memperkenalkannya.

Sekali lagi untuk mengingatkan Anda, nama Nusantara ini dipakai untuk menggantikan nama Hindia Belznda. Kata atau istilah Nusantara diusulkan oleh Ki Hajar Dewantara karena menurutnya tidak ada kata asing yang terdapat di dalamnya, yakni India. Alasan lain Ki Hajar Dewantara ialah karena Belznda sangat senang menggunakan istilah Indie alias Hindia yang akhirnya membuat rancu pada literatur bahasa.

Namun, bukan berarti pada saat itu hanya ada nama Nusantara saja, dimana tetap ada beberapa istilah lain yang diajukan untuk menjadi istilah pengganti Hindia Belanda. Pada saat itu, ada isitilah Indonesie (Indonesia) hingga Insulinde atau Hindia Kepulauan. Eduard Douwes Dekker lah yang mengemukakan istilah Insulinde.

Bukan dari ketiga istilah yang sudah disebutkan tadi, akhirnya pada Kongres Pemuda Kedua yang dilakukan di tahun 1928 dipilihlah nama Indonesia menjadi nama Kebangsaan. Namun, hal ini tidak langsung berarti bahwa istilah Nusantara akan langsung tenggelam dan hilang begitu saja. Malah hingga saat ini istilah Nusantara masih terus ada dan sudah sangat identik sebagai sinonim dari Indonesia.

Hal ini bisa langsung Anda rasakan dari sudut Atropo-geografik, misalnya dari iklan-iklan yang sering muncul di TV, tulisan-tulisan sastra, hingga pada pembahasan politik. Sebelumnya mungkin memang tidak terlalu Anda perhatikan, namun sekali lagi hal ini membuktikan bahwa nama Nusantara tidak akan pernah menghilang lagi seperti zaman dahulu kala.

Meskipun begitu, bukan berarti Nusantara ini selalu mulus-mulus saja. Pada penghujung Perang pasifik lalu, muncul dinamika politik bahwa adanya Wacana Indonesia Raya, dimana wilayahnya melampaui Britania Malaya atau sekarang Malaysia Barat dan juga Kalimantan Utara. Namun ada pula hal baik yang terjadi karena masyarakat Semenanjung Malaya akhirnya menggunakan istilah Nusantara juga karena merasa memiliki rumpun yang sama.

Namun, ketika Malaysia resmi berdiri di tahun 1957, semangat dan rasa kebersamaan yang ada dibawah nama Nusantara mulai runtuh karena adanya permusuhan dan konflik politik konfrontasi yang pada saat itu digemborkan oleh Soekarno. Untungnya, kini masalah tersebut sudah selesai dan pengertian juga semangat  dari istilah Nusantara tetap terjaga hingga saat ini.

Nusantara Dimata Eropa

Tak hanya asal mula Nusantara yang perlu Anda kenali, keeksisanya juga perlu Anda ketahui, salah satunya dengan mengenal Nusantara dimata Eropa ini. beberapa litratur bahsa Inggris dan beberpa bahasa lainnya diabad ke 19 hingga 20 sudah menyebutkan wilayah kepulauan sebagai Malay Archipelago. Sebutan tadi lebih ditujukan pada wilayah kepualuan dari Sumatera sampai Maluku dan memiliki kekayaan rempah-rempah.

Arti dari Malay Archipelago senidri merupakan Kepulauan Melayu dalam Bahasa Indonesia. Istilah ini juga semakin  populer saja jika diambil dari sudut pandang geografis. Hal ini saja sudah seakan membuktikan bahwa Nusantara sudah memiliki namanya sendiri di Eropa, terlepas dari asal mula Nusantara yang memang sudah memiliki perjalanan cukup panjang dan memang sempat memiliki beberapa keterkaitan dengan beberapa negara lain.

Sebagian dari Anda mungkin ada yang merasa penasaran mengapa New Guinea atau Pulau Papua tidak termasuk dalam Malay Archipelago. Hal ini dikarenakan menurut literatr tersebut penduduk asli dari Pulau Papua tidak dihuni oleh cabang ras Mongoloid seperti kebanyakan yang ada di Kepulauan  Melayu. Belum lagi budaya dari masyarakat Pulau Papua memang sudah sangat berbeda dengan  Kepulauan Melayu.

Semoga saja pembahasan mengenai asal mula Nusantara ini bisa memberikan wawasan yang lebih luas bagi Anda.

Beberapa konsep artikel ini disarikan dari Wikipedia/Nusantara

Hervino

Hervino

Founder NusantaraKaya.com, Family, Traveling and Culinary Lover.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
error: Konten dilindungi!!
Histats.com © 20