Ternyata Ini Makna Bhineka Tunggal Ika Yang Harus Kamu Ketahui

Makna Bhineka Tunggal Ika

Jika Anda pernah melihat gambar burung garuda yang ada di dinding-dinding sekolah, pasti garuda tersebut membawa sebuah pita yang bertuliskan Bhineka Tunggal Ika. Sebenarnya apa si makna dari Bhineka Tunggal Ika, mengapa tulisan tersebut dibawa oleh burung Garuda yang menjadi lambang negara Indonesia.

Untuk menjawab rasa penasaran Anda sebaiknya simak penjelasan makna Bhineka Tunggal Ika di Bawah ini. Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan atau moto dari bangsa Indonesia. Adapun arti dari Bhineka Tunggal Ika adalah “BERBEDA-BEDA TETAPI TETAP SATU JUA”.

Yang mengartikan bahwa Indonesia merupakan sebuah negara yang terbentuk dari bermacam-macam suku, ras, agama dan golongan. Namun perbedaan inilah yang menjadikan Indonesia bersatu menjadi sebuah negara yang utuh.

Mengapa harus menggunakan semboyan Bhineka Tunggal Ika? Mengapa demikian? Hal ini karena Bhineka Tunggal Ika merupakan sebuah simbol yang menggambarkan tentang kesatuan dan persatuan dari bangsa Indonesia. Hal ini dilihat dari sisi ragam budaya yang berbeda, suku, agama, ras, basa, dan golongan.

Seperti yang sudah dikatakan di atas bahwa kata Bhineka Tunggal Ika tertera dalam gambar garuda dimana tulisan tersebut berada dalam sebuah pita yang dicengkeram oleh burung garuda.

 

Arti Bhineka Tunggal Ika dalam genggaman Burung Garuda
Arti Bhineka Tunggal Ika dalam genggaman Burung Garuda

Tentunya dari lambang negara ini memiliki makna dimulai dari mengapa kepala garuda menoleh ke kanan, mengapa garuda menggunakan perisai yang membentuk sebuah jantung, dan mengapa pula terdapat rantai pada leher garuda dan yang aling penting mengapa garuda membawa pita yang bertuliskan Bhineka Tunggal Ika.

Makna Lambang Negara Garuda Indonesia

Tentunya semua ini memiliki makna, termasuk juga makna Bhineka Tunggal Ika di dalamnya. Lambang negara ini didesain oleh Sultan hamid II yang berasal dari Pontianak. Kemudian hasil desain dari Sultan hamid II ini disempurnakan kembali oleh Ir. Soekarno dan diresmikan serta dipakai pertama kali pada saat sidang kabinet Republik Indonesia Serikat yang berlangsung pada tanggal 11 Februari 1950.

Sultan Hamid II sebagai desainer lambang negara Garuda Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika
Sultan Hamid II sebagai desainer lambang negara Garuda Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika

Adapun menggunakan lambang negara ini telah diatur dalam UUD 1945  pada pasal 36A dan UU NO. 24 tahun 2009 mengenai Bendera, Bangsa, dan lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Namun ada saat pemerintahan RIS, lambang Negara diatur dalam UUD Sementara 1950serta termuat dalam peraturan pemerintah No. 43 tahun 1958.

Adapun kalimat Bhineka Tunggal Ika ini tertera dalam sebuah buku yang bernama Sotasoma yang merupakan buku karangan dari Mpu Tantular pada masa kerajaan Majapahit yakni yang hidup pada abad ke-14.

Dalam buku karangan Mpu Tantular ini pengertian dari Bhineka Tunggal Ika lebih merujuk pada kepercayaan serta adanya keanekaragaman agama dan kepercayaan lainnya pada kalangan masyarakat Majapahit saat itu.

Sedangkan secara harfiah pengertian dari Bhineka Tunggal Ika yakni memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Makna Bhineka Tunggal Ika ini memiliki arti walaupun bangsa Indonesia terdiri dari beragam budaya suku, ras, agama dan golongan namun pada hakikatnya bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang satu.

Sebuah Semboyan Negara yang Harus Tetap dijaga

Adapun semboyan Bhineka Tunggal Ika digunakan untuk menggambarkan bahwa negara Indonesia merupakan negara yang menjunjung persatuan dan kesatuan bangsa meskipun memiliki beragam suku, budaya, ras, agama dan golongan.

Makna Bhineka Tunggal Ika juga menandakan bahwa meskipun bangsa Indonesia ini merupakan sebuah bangsa yang terdiri dari berbagai suku. Setiap suku juga memiliki adat istiadat masing-masing serta peraturan sukunya masing-masing. Namun semua suku yang ada di indonesia tetap patuh terhadap UUD 1945.

Bhineka Tunggal Ika yang sudah mulai Terlupakan
Bhineka Tunggal Ika yang sudah mulai Terlupakan

Dari keanekaragaman budaya yang ada di indonesia tidak menjadikan Indonesia terpecah belah. Namun dari keanekaragaman budaya inilah yang menjadikan penguat bagi Indonesia untuk tetap bersatu dalam keadaan apapun. Bahkan karena keanekaragaman budaya inilah yang menjadikan kekayaan bagi bangsa Indonesia.

Bagi bangsa Indonesia makna dari Bhineka Tunggal Ika menjadi dasar untuk mewujudkan cita-cita, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Adapun perwujudan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan cara yang mudah.

Misalnya saja dengan saling menghargai antar agama, saling menghargai satu sama lain tanpa harus memandang orang tersebut berasal dari suku , agama , ras mana atau warna kulit.

Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu Jua

Seperti yang diketahui bersama bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan dimana di masing-masing pulau tersebut adat dan budayanya sudah berbeda. Terlebih lagi Indonesia juga memiliki banyak sekali bangsa, jenis kulit atau agama dan suku lainnya. Tanpa adanya rasa saling menghargai dari semboyan negara ini, tidak akan mungkin Indonesia dapat bertahan hingga saat ini.

Dengan adanya Bhineka Tunggal Ika juga mengajarkan manusia untuk tidak mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Namun ikut mementingkan kepentingan kelompok dan menghargai pendapat orang lain. Dengan begitu kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia tetap terjaga dan utuh tanpa adanya perpecahan.

Sungguh dalam makna Semboyan bagi bangsa Indonesia. Oleh sebab itu sebagai penerus dan generasi bangsa Indonesia kita harus senantiasa menerapkan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

Tak perlu dengan menggunakan cara yang berbahaya, hanya dengan saling menghormati dan menghargai serta menanamkan toleransi maka Indonesia tetap akan menjadi negara yang utuh.

Beberapa gambar dari Merdeka.com

Hervino

Hervino

Founder NusantaraKaya.com, Family, Traveling and Culinary Lover.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
error: Konten dilindungi!!
Histats.com © 20