Pancasila, Sebuah Kata Sederhana Namun Kaya Akan Makna

Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki dasar negara yang disebut Pancasila. Pancasila ini dibuat untuk menyatukan bangsa Indonesia dan sebagai tujuan serta cita-cita bangsa Indonesia. Sebuah dasar Negara yang memiliki kandungan yang kaya makna yang membuat Indonesia tetap berdiri kokoh hingga sat ini.

Pancasila dasar negara sebagai sebuah fondasi awal bagi banda Indonesia yang merupakan sebuah landasan yang kuat dan kokoh serta harus selalu tahan terhadap segala gangguan. Adapun tujuan dirumuskannya Pancasila adalah digunakan sebagai dasar negara Republik Indonesia.

Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Radjiman Widyodiningrat bahwa sana hakikat Pancasila yakni dasar negara. Hal ini juga selaras dengan yang diungkapkan oleh Muhammad Yamin, Ir, Soekarno dan Mr. Soepomo yang merupakan tokoh pembuat dan pencetus Pancasila.

Hal ini juga selaras dengan yang diungkapkan oleh Muhammad Yamin, Ir, Soekarno dan Mr. Soepomo yang merupakan tokoh pembuat dan pencetus Pancasila. Mereka beranggapan bahwa Indonesia jika ingin merdeka harus memiliki sebuah dasar negara sebagai landasan negara, oleh sebab itu dicetuskanlah Pancasila.

Dilihat dari asal-usulnya, istilah Pancasila berasal dari basa sanskerta yakni panca dan sila. Kata panca mengandung arti lima sedangkan sila berarti dasar, asas atau sendi. Sebagai bangsa Indonesia yang baik dan cinta terhadap tanah air.

Maka kita harus mengetahui makna dari Pancasila dasar negara Indonesia. Karena dasar negara merupakan sebuah falsafah yang memberikan makna dari cita-cita bangsa Indonesia yang luhur.

Adapun proses pencetusan Pancasila memakan waktu yang lama dan panjang. Hal ini tercantum dalam sidang BPUPKI yang pertama kali dilaksanakan ada tanggal 1 Juni 1945. Pada sidang tersebut Ir. Soekarno melakukan sebuah pidato, beliau mengatakan dalam pidatonya yakni “…..namanya Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa, namanya Pancasila. Sila artinya asa atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi”.

Setelah dilakukannya sidang BPUPKI yang pertama, maka dibentuklah sebuah panitia kecil atau yang disebut dengan panitia delapan. Namun, dibentuk kembali sebuah panitia kecil yang diberi nama panitia Sembilan yang beranggotakan sembilan orang pada tanggal 22 Juni 1945 dan panitia ini berhasil merumuskan Piagam Jakarta.

Hingga pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI selaku panitia persiapan kemerdekaan Indonesia menetapkan rumusan Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia sebagaimana yang termuat dalam pembukaan UUD 1945 ada alenia empat dengan urutan di bawah ini.

Ketuhanan yang maha Esa

Kemanusiaan yang adil dan beradab

Persatuan Indonesia

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dari rumusan Pancasila tersebut menandakan bahwa Pancasila sebagai kaidah negara yang fundamental. Yang berarti Pancasila sebagai hukum dasar baik yang tertulis maupun tidak tertulis dan seluruh peraturan perundang-undangan yang dibuat dan berlaku di Indonesia semuanya harus bersumber dan berdasarkan Pancasila.

Keterangan Lambang Garuda Pancasila
Keterangan Lambang Garuda Pancasila

 

Adapun butir-butir pengamalan yang terkandung di dalam Pancasila sendiri adalah sebagai berikut, dan sempat mengalami perubahan pada tahun 2003.

Berdasarkan Ketetapan MPR No.II/MPR/1978

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

  1. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  2. Hormat menghormati dan bekerja sama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
  3. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

  1. Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
  2. Saling mencintai sesama manusia.
  3. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
  4. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
  5. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
  6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  7. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  8. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.

3. Persatuan Indonesia

  1. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
  2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
  3. Cinta Tanah Air dan Bangsa.
  4. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia.
  5. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan

  1. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
  2. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.
  5. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.
  6. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

  1. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.
  2. Bersikap adil.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak-hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
  6. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak bersifat boros.
  8. Tidak bergaya hidup mewah.
  9. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
  10. Suka bekerja keras.
  11. Menghargai hasil karya orang lain.
  12. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Berdasarkan ketetapan MPR no. I/MPR/2003

Sila Pertama

Sila Pertama Bintang Pancasila
Bintang
  1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sila Kedua

Lambang Rantai Pancasila Sila Kedua
Rantai
  1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
  3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.

Sila Ketiga

Pohon Beringin
Pohon Beringin
  1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
  6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
  7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Sila Keempat Pancasila

Kepala Banteng Sila Keempat Pancasila
Kepala Banteng
  1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
  2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
  10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

Sila Kelima

Padi dan Kapas Sila Kelima Pancasila
Padi dan Kapas
  1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
  6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
  8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
  9. Suka bekerja keras.
  10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
  11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Apa jadinya jika negara Indonesia tidak memiliki Pancasila sebagai dasar negara. Tentunya hukum dan peraturan tidak akan berjalan dengan semestinya. Warga masyarakat tidak memiliki pedoman untuk bernegara. Sehingga akan muncul perpecahan di mana-mana. Bahkan akan ada banyak wilayah yang akan memerdekakan diri dari Indonesia.

Ibaratkan Pancasila sebagai sebuah bangunan, bangunan tidak akan kokoh tanpa adanya fondasi yang kuat. Sama halnya dengan sebuah negara. Sebuah negara tidak akan berdiri dengan kokoh jika tidak memiliki dasar negara yang dijadikan pedoman dalam melakukan berbagai hal.

Hervino

Hervino

Founder NusantaraKaya.com, Family, Traveling and Culinary Lover.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
error: Konten dilindungi!!
Histats.com © 20